5 Tradisi Jelang Ramadan di Pulau Jawa, Mulai dari Nyorog di Betawi hingga Dandangan di Kudus

TRIBUNTRAVEL.COM - Bulan suci Ramadan diperkirakan akan dimulai pada pertengahan bulan April 2021 mendatang.

Bagi umat Muslim, bulan Ramadan tentu sangat ditunggu-tunggu, begitu juga bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam.

Dalam menjalani bulan Ramadan, masyarakat Indonesia memiliki sejumlah aktivitas seru yang hanya ada saat bulan suci tiba.

Misalnya seperti ngabuburit, buka puasa bersama, sahur on the road hingga mudik ketika bulan Ramadan akan berakhir.

Namun, sebelum menjalani semua itu, sebagian masyarakat Indonesia juga melakukan tradisi yang khusus dilakukan untuk menyambut bulan Ramadan.

Nah, di Pulau Jawa setidaknya ada 6 tradisi dalam menyambut bulan Ramadan, apa saja?

Baca juga: Sambut Ramadan, Kenali 5 Kolak Unik Khas Berbagai Daerah di Indonesia, Ada yang Pakai Ayam

Ilustrasi datangnya bulan Ramadan. Petugas dari Kemenag Perwakilan DI Yogyakarta melakukan pemantauan hilal di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu, Parangkusumo, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (19/7/2012).
Ilustrasi datangnya bulan Ramadan. Petugas dari Kemenag Perwakilan DI Yogyakarta melakukan pemantauan hilal di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu, Parangkusumo, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (19/7/2012). (TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI)

1. Nyorog

Tradisi menyambut bulan Ramadan yang pertama datang dari penghuni Pulau Jawa bagian Barat, yakni dari suku Betawi.

Suku Betawi memiliki tradisi bernama nyorog, yang biasa dilakukan untuk menyambut datanganya bulan suci Ramadan.

Tradisi ini berwujud kegiatan membagikan berbagai bingkisan, seperti bahan makanan mentah, gula, susu, kopi, ikan bandeng dan sebagainya kepada sanak keluarga.

Terkadang, bingkisan nyorog juga berupa makanan khas Betawi yang dimasukkan ke dalam rantang, seperti sayur gabus pucung misalnya.

Tujuan dari tradisi nyorog orang Betawi adalah untuk mengingatkan bahwa sebentar lagi bulan Ramadan akan tiba dan juga sebagai ajang silaturahmi dengan satu sama lain.

2. Padusan

Padusan merupakan tradisi masyarakat Jawa yang bertujuan untuk menyucikan diri serta membersihkan jiwa dan raga dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang dilakukan secara turun-temurun dengan cara berendam atau mandi di sumur-sumur atau sumber mata air.

Jika ditelisik lebih jauh, tradisi memiliki makna yang cukup dalam, yakni sebagai media untuk merenung dan introspeksi diri dari berbagai kesalah yang telah diperbuat.

Oleh sebab itu, seharusnya ritual ini dilakukan seorang diri di sebuah tempat yang sepi.

Tradisi Padusan umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta.

TONTON JUGA:

3. Megengan

Tradisi megengan merupakan tradisi menyambut bulan Ramadan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur.

Megengan berasal dari kata &;megeng&; yang berarti menahan, sehingga megengan memiliki arti dan filosofi untuk menahan segala hal yang membatalkan ibadah puasa.

Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan perasaan dan emosi atau hawa nafsu.

Dalam tradisi megengan, ada satu makanan yang tak akan pernah tergantikan, yaitu kue apem.

Kue apem sendiri berasal dari kata Bahasa Arab afwan, yang berarti ampunan atau maaf.

Makanan ini menjadi simbol untuk memohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala dosa yang telah diperbuat.

Sebelum makanan dan kue Apem dibagikan, jamaah megengan biasanya terlebih dahulu membaca tahlil dan istighosah.

Harapannya, supaya dalam menjalani ibadah puasa Ramadan, manusia bisa tenang dan lapang dada karena Allah Swt. sudah memaafkan dosa yang mereka perbuat.

4. Dandangan

Tradisi dandangan merupakan tradisi dalam menyambut bulan Ramadan yang diperkenalkan oleh Sunan Kudus sejak 450 tahun lalu.

Dandangan sendiri bermula dari masyarakat yang menanti pengumuman awal dimulainya waktu puasa dengan berkumpul di Masjid dan Menara Kudus yang ditandai dengan suara tabuhan beduk.

Bunyi beduk &;dang, dang, dang&; itu lah yang kemudian disebut sebagai dandangan.

Seiring berjalannya waktu, keramaian ini menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menggelar lapaknya.

Sehingga, kini keramaian tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai pasar malam yang ada setiap menjelang Ramadan.

Ilustrasi tradisi padusan jelang bulan Ramadan.
Ilustrasi tradisi padusan jelang bulan Ramadan. (kompasiana.com)

5. Nyadran

Tradisi Nyadran atau tradisi sadranan merupakan tradisi yang banyak dilakukan di daerah Jawa, utamanya Jawa Tengah.

Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, yakni sraddha yang berarti keyakinan.

Tradisi ini dilakukan dengan cara mendatangi makam orang-orang yang sudah meninggal, membersihkan makam sembari membawa bunga tabur.

Puncak tradisi nyadran yakni kenduri atau selamatan di makam leluhur.

Beberapa daerah di Jawa seperti di Ungaran, Nyadran dilakukan juga sebagai ajang berkumpulnya warga untuk menjalin silaturahmi.

Baca juga: 8 Kudapan Manis Berbahan Dasar Jagung untuk Takjil Buka Puasa

Baca juga: Nasi Tutug Oncom hingga Batagor, Ini 10 Kuliner Khas Bandung untuk Buka Puasa di Bulan Ramadan

Baca juga: Selama Bulan Ramadan, Ini 5 Menu Favorit Orang Indonesia di McDonalds

Baca juga: Lalampa, Kudapan Khas Ternate yang Laris Diburu saat Bulan Ramadan

Baca juga: Astronaut Asal Arab Saudi Ini Ceritakan Pengalamannya Puasa Ramadan di Ruang Angkasa

Temukan solusi untuk kebutuhan transportasi, pengiriman barang, layanan pesan antar makanan, dan yang lainnya di sini.

SHARE : share facebook share twitter share linkedin